Selasa, 22 Maret 2011

Cinta dan Sejuta Pengampunan


Kita adalah kumpulan waktu yang makin menipis dari hari ke hari. Perjalanan waktu yang kita tempuh pun makin menyusut. Karenanya jatah waktu kita makin sedikit. Inilah yang dinamakan kesempatan hidup dan berbuat. Kelak kita diberi kesempatan untuk menuai hasilnya.

Hidup di dunia–bagi manusia–bagaikan perjalanan. Bagi kita yang sudah menempuh jarak + 20-30 an tahun, tentu banyak menemukan berbagai pengalaman berharga. Namun yang pasti, setiap perjalanan memerlukan sarana. Perjalanan seseorang juga tak mungkin dilakukan tanpa istirahat dan bekal. Kita yang berjalan kaki, dalam menempuh sebuah tujuan pun memerlukan minum dan makan. Mobil yang kita tumpangi juga perlu diisi bahan bakar. Proses ini kita namakan: pembekalan.

Salah satu karunia Allah yang berharga adalah Ramadhan, bulan pembekalan. Bahwa setiap tahun kita diberi kesempatan untuk sejenak bersama diri kita, merenung, berpikir dan melakukan dialog batin. Proses ini juga dinamakan: pembekalan.

Apa yang terjadi dalam menempuh jarak perjalanan yang kita sendiri kurang tahu panjang pendeknya? Kita hanya tahu tujuan akhirnya saja. Bahkan kita pun tak mengetahui, kapan kita sampai di tempat tujuan tersebut. Peristiwa-peristiwa sepanjang perjalanan tersebut menjadi ghaib kecuali yang telah kita lewati. Semua terhijab.

Perjalanan berat ini perlu kesiapan mental yang kuat. Karena bisa jadi kita tersesat di tengah jalan atau melakukan kesalahan yang kadang mengakibatkan kendaraan jadi rusak. Kemana kita mencari perbaikan? Kemana kita mencari bengkel?

Hanya satu: Allah. Karena hanya Dia yang mencipta dan mengetahui secara detail tentang kita. Lalu, bagaimana kita berinteraksi dengan Allah secara efektif. Bukankah Allah membuka pintu rahmah dan maghfirah-Nya setiap saat?

Bulan Ramadhan merupakan peluang emas. Allah mengistimewakan bulan ini. Rahmah-Nya diluaskan, pengampunan-Nya dibentangkan. Barang siapa yang mengejarnya, serius memohon dengan segenap azam. Allah menjanjikan akan memenuhinya. Bukankah Allah yang menyuruh kita untuk berdoa? Bukankah Dia juga yang berjanji mengabulkannya? Bukankah Dia pula yang memberitahu kedekatan itu? Dekat tanpa jarak dan perantara. (QS. 2:186)

Bulan yang pintu perbaikan senantiasa dibuka. Dengan segala kelapangan Allah menerima siapa saja. Bagi pemburu kebaikan Allah mempersilakan. Bagi pelaku dosa Dia bersedia mengulurkan maghfirah-Nya. Lantas, syeitan manakah yang membisikkan keputusasaan itu. Bukankah syeitan pun terbelenggu di bulan ini. Itu hanya bisikan nafsu yang terbiasa dengan buaian hawa dan kelezatan fana. Atau keraguan yang sempat bersemi di hati yang sedang sakit. Bukankah hati seperti ini perlu siraman. Ke mana lagi hendak dicari, jika bukan sekarang; Ramadhan. Hanya satu yang tak diberi kesempatan, mereka yang berputus asa dari rahmat-Nya. Sungguh bodoh orang yang tak mau memanfaatkan ini… Bila Allah telah menyediakan bekal perjalanan sementara kita tak mau mengambilnya. Atau tak mampu karena keterlambatan dan keteledoran yang kita lakukan.

Jangan sampai kita termasuk orang yang disabdakan Nabi Saw. “Merugilah orang yang menjumpai Ramadhan, sedang dosanya belum diampuni”.

Jika kita beristighfar setiap hari seratus kali, selama bulan Ramadhan, akan terkumpul istighfar sebanyak 3000 kali pada bulan ini. Namun bila Allah memberi kesempatan berjumpa dengan lailatul qadar. Koleksi istighfar kita akan mencapai 3.000.000 selain 3000 yang telah kita hitung. Dengan sejumlah istighfar tersebut akankah dapat menebus kesalahan dn kekhilafan yang pernah kita lakukan? Enggan bersyukur. Maksiat mata yang mengkhianati kebesaran-Nya. Dosa lidah yang tajam melukai kelembutan cinta-Nya pada makhluk-Nya. Telinga yang mendengar pergunjingan kemungkaran. Kaki yang melakukan kezhaliman. Tangan yang menghalangi kebaikan. Belum segudang gerutu hati mengomentari keputusan dan takdir-Nya.

Allah tak perlu angka-angka di atas. Itu hanya refleksi keluasan cinta-Nya dalam memotivasi hamba-Nya untuk melawan keputusasaan. Bukankah kelipatan tersebut hanya Dia yang paham? Kita hanya diberitahu perkiraannya saja.

Ya Rahman genggamlah jiwa ini. Karena ia ada pada “jari-jari” kekuasaan-Mu. Tunjukkan kemana hati ini berlabuh, jika tidak ke pangkuan kasih sayang-Mu. Pahamkan jiwa dan hati ini agar tak mendustai kebeningannya. Jangan Kau pekatkan ia karena nafsu dan bisikan. Bisikan apapun, ya Halim. Karena hamba telah berkali-kali jatuh. Jangan bosan Engkau menuntun. Jangan enggan Engkau ulurkan lagi. Entah sampai kapan hamba menyesal, kemudian menyesal dan menyesal lagi. Satu-satunya hal yang tak hamba sesali adalah menjadi makhluk-Mu. Karena Engkau tiada pernah bosan mengasihi dan memberikan cinta. Karena Engkau selalu … ya hamba yakin selalu bersama hamba. Meski hamba telah berkali-kali melukai cinta-Mu dengan maksiat dan dosa.

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan sepenuh iman dan keikhlasan, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)

sumber : eramuslim

Cinta Bagi Guru

Jakarta cerah ceria pagi ini. Langitnya yang biru bersih dapat saya nikmati dari jendela kantor saya di lantai 8. Saya bersenandung riang sambil menyalakan PC, bersiap-siap mengerjakan tugas-tugas rutin. Dan seperti biasa, saya mengawali ritual kantor saya dengan membuka mailbox. Saat saya membuka imel, airmata saya tiba-tiba saja membanjir tanpa dapat dicegah. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuncah, menyesakkan dada. Antara gembira, bahagia, syukur, haru dan kangen bercampur menjadi satu. Menyodok-nyodok saraf rasa dan memeras kelenjar air mata. Hanya karena satu hal: sebuah nama yang selama ini teramat indah terukir dalam memori masa lalu, muncul di mailbox saya. Bahkan, saya belum lagi sempat membukanya.

Duhai, perasaan apakah ini? Kerinduan? Kekaguman? Keharuan? Atau... cinta? Ya. Cinta yang sesungguhnya kurasa. Cinta yang tulus keluar dari jiwa dan nurani. Cinta seorang 'anak' kepada 'bapak'-nya. Cinta seorang muslim kepada saudaranya.

Dan kenangan pun bergulir ke masa hampir 10 tahun silam, saat saya menjalani hari-hari dalam tempaan sosok yang tiba-tiba namanya muncul di inbox saya hari ini. Sesosok pria bertubuh kecil-kurus namun berwawasan 'gemuk': Guru saya di masa lalu. Terbayang kembali pertemuan-pertemuan kami (saya bersama teman-teman dan beliau) yang penuh arti, penuh semangat, penuh cinta dan penuh pelajaran. Melalui beliau dulu saya mendapat wawasan dasar-dasar ke-Islaman. Padanya saya mengais ilmu tentang keorganisasian dan dakwah. Dari beliau dan istri saya memperoleh perhatian yang tulus sebagai saudara.

Pertemuan-pertemuan saya dan kawan-kawan dengan beliau selama 3-4 jam tiap pekannya kami jalani dengan gembira dan penuh semangat: karena keyakinan bahwa dalam 3-4jam teramat banyak yang akan kami peroleh. Bahwa kami akan mendapatkan pelajaran dan ilmu yang sangat berharga: wawasan keorganisasian, oase iman, dan juga solusi atas permasalahan dakwah mau pun permasalahan pribadi. Saya benar-benar merasa memiliki keluarga ideal bersama beliau, istri beliau dan teman-teman kami. Dua tahun efektif kami bersama, dengan kebersamaan yang sesungguhnya. Sesuatu yang tak pernah saya peroleh lagi setelahnya. Dan kini, setelah hampir tujuh tahun kami berpisah, 'menemukan kembali' beliau adalah anugerah luar biasa.

Peristiwa ini membawa saya kepada pengertian yang mendalam tentang cinta para shahabat dan shahabiyah kepada Rasulullah: guru, ayah, saudara dan sahabat mereka. Lebih dari inikah yang mereka rasakan hingga mereka sanggup menjadi tameng asal Rasulullah selamat? Lebih dari inikah rasanya hingga Bilal rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengunjungi makam sang kekasih?

Pengalaman ini membuat saya memahami, mengapa Hasan Al-Banna juga teramat dirindui oleh teman-teman dan murid-muridnya. Kejadian ini pun mengingatkan saya kepada kisah seorang tokoh yang selalu mengirim surat secara rutin bagi guru masa kecilnya, bercerita tentang seluruh perjalanan dan perjuangan hidupnya meraih keberhasilannya yang sekarang. Duhai, betapa murninya cinta itu, hingga waktu tak pernah mampu mengubahnya. Wahai, betapa tulusnya cinta itu, sampai kita tak pernah kehilangan kenangan tentangnya, meski mereka telah pergi dari kehidupan kita.

Saya bersyukur, bahwa saya pernah memiliki orang-orang yang sangat mempengaruhi sikap hidup, pilihan hidup dan cara pandang dalam hidup saya. Mereka yang menanamkan prinsip dalam hidup saya hingga menjadi acuan hidup sehari-hari Mereka yang pernah sangat berarti dan selamanya akan berarti. Bahkan ketika waktu telah membawa saya kepada realitas hidup yang berbeda, tak lagi seperti idealita masa lalu itu: hal-hal yang beliau sampaikan tetap membekas di jiwa. Tak luntur oleh hempasan gelombang kehidupan. Karena cinta yang menjadi ruhnya.

Dan kini saya bercita-cita, pada sisa hidup ini, saya ingin meneladani beliau dan orang-orang yang mempengaruhi pribadi saya, untuk menjadi teladan dan kecintaan bagi anak-anak saya, saudara dan kerabat, serta semua orang yang pernah dan akan mampir dalam kehidupan saya. Bagaimana dengan anda? (@az, mengenang bapak, mbak ws, mbak nz, genk of 5, dari penggal hidup di masa lalu)

Azimah Rahayu


sumber : eramuslim