Kamis, 17 Maret 2011

Kisah Sandal Jepit dan Sepatu

Di suatu petang, dalam perjalanan pulang, di atas motor yang saya pacu lumayan kencang, pikiran saya menerawang mengingat kejadian di siang harinya.

Sebelum zhuhur, saya ditepon seorang teman bahwa dia sudah tiba di lingkungan kantor saya, dan selepas sholat zhuhur kami akan bertemu. Dalam hati saya senang sekali, karena dia datang tidak dengan tangan hampa, tapi ada oleh-oleh yang dibawanya. Hari ini saya akan dapat rezeki.

Selesai sholat segera saya keluar masjid dan menemui dirinya yang memang sudah menunggu. Begitu bertemu, dia langsung memberikan oleh-oleh kepada saya. Melihat kantong bawaannya cukup besar, saya berpikir bahwa isinya juga banyak. Bakal kenyang perut saya siang ini, begitu pikir saya. Tapi sebelumnya saya sudah beli makan untuk saya santap siang ini. Sayang juga, begitu kelanjutan pikiran saya.

Kami berbicara tidak lama, karena ia ada keperluan lain yang mendesak. Namun sebelum pergi, ia memberitahukan sebuah kabar bahwa seorang temannya mengalami musibah. Dompet dan HP hilang kecopetan dalam sebuah perjalanan.

Setelah pertemuan dengan teman saya itu, saya membawa kantong berisi makanan itu ke ruangan saya. Karena bawaan teman saya cukup banyak, teman-teman saya ikut juga merasakan nikmatnya oleh-oleh dari teman saya itu. Selagi saya dan teman-teman menikmati lezatnya oleh-oleh tersebut, teman saya yang lain datang. Sambil senyum-senyum dia memberitahukan bahwa sandalnya hilang. Dan saya memang melihat bahwa dikakinya menempel sandal berwarna biru yang masih bersih. Saya tersenyum dan menggodanya. Tak lama kemudian dia pun ikut menikmati apa yang sedang kami santap.

Masih di dalam perjalanan, ada sebuah pikiran yang terbersit. Saya harus bersyukur bahwa hari ini saya mendapat rezeki, sedangkan teman seruangan saya hari ini kehilangan sandal jepitnya. Sesaat kemudian saya juga berpikir, mungkin teman seruangan saya itu juga akan bersyukur bila mengetahui bahwa dia hanya kehilangan sepasang sandal jepit yang tidak seberapa mahal harganya, sedangkan teman saya yang lain kehilangan dompet beserta isinya dan hp. Kemudian saya berpikir, bahwa teman yang kehilangan dempet dan hp juga akan bersyukur, bila dirinya membandingkan dengan saudara-saudara kita yang meninggal karena kecelakaan pesawat di Polonia sana.

Pada suatu hari di tahun yang lalu, adik saya minta dijemput seusai jam kantor. Jalan-jalan di Jakarta tak pernah lepas dari kemacetan pada jam-jam pulang kantor. Saya pun terpaksa berkelit di antara kendaraan-kendaraan lain yang merambat pelan. Setelah menjemput adik saya, kembali saya memacu motor saya untuk kembali ke rumah. Karena jalan masih macet dan waktu maghrib sudah tiba, akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke masjid untuk sholat.

Setelah selesai sholat, saya mendapati bahwa sepatu yang saya letakan di belakang pintu pagar masjid sudah tiada. Hilang. Untunglah saya membawa sandal, jadinya saya tidak 'nyeker' di atas motor.

Sesampai saya di rumah dan menceritakan apa yang saya alami, ibu saya berucap, "Untung sepatu yang ilang, bukan motor, orangnye juge gak kenape-nape."

Ya, saya masih beruntung, dan itu patut disyukuri. Keadaan itu juga membuat saya lebih berhati-hati terhadap apa yang saya miliki.

Saya teringat sebuah kisah Kabayan, ketika dia pulang ke rumah dengan mobilnya. Setelah sampai di rumah, dia pun memarkir mobil di pinggir jalan dan langsung masuk ke dalam rumah. Setelah beberapa lama, dia pun keluar rumah untuk pergi lagi. Namun betapa terkejut dirinya ketika mendapati bahwa mobilnya sudah hilang. Tapi dia dia mengumpat atau mengeluarkan sumpah -serapah kepada pencuri yang membawa mobilnya. Dia hanya berkata, "Untung saya tidak berada di mobil itu, kalau saya masih di dalam mobil, diri saya pasti akan hilang juga."

---oo0oo---

Mungkin suatu hari, hati saya bisa tersenyum ketika melihat sebuah sandal jepit dengan corak bunga-bunga berada di tepi masjid. Dan menerima kenyataan bahwa sandal jepit itu rupanya sudah berpindah kaki. Sandal itu bisa memberikan manfaat bagi orang lain, melindungi tapak kakinya dari debu dan kotoran.

Bila saya tak mau kehilangan lagi, maka saya harus lebih hati-hati menjaga apa yang saya miliki sebagai rasa syukur. Sedangkan yang hilang tak usahlah terus dikenang. Mudah-mudahan saya tak lagi kehilangan.

Anda Bisa Jika Anda Berpikir Bisa

seutas benang. Itu bukan cerita, itu kisah nyata.
Kita sebagai manusia yang berakal budi ternyata juga mengalami trauma yang sama. Teman saya
sejak kecil tidak berani mengendarai sepeda, ketika kami remaja dan suka keliling kota dengan
sepeda motor, dia selalu dibonceng teman lainnya, setelah kami dewasa beberapa teman mulai
memakai mobil untuk aktivitasnya, tapi teman saya itu tetap tidak berani mengendarai apapun.
Anda jg pasti punya teman yg tidak pernah mau mencoba mengendarai sepeda/sepeda motor,
apalagi mobil, selalu takut & merasa bahwa mengendarai motor atau mobil adalah sesuatu yg
sangat sulit. Istri
teman saya bisa mengendarai mobil, setiap hari dia menggunakan mobil untuk antar jemputnya
ke dan dari sekolah, tapi dia hanya berani menggunakannya di dalam kompleks ( Kelapa Gading
Jakarta ), selama lebih dari 5 tahun tidak pernah sekalipun dia berani mengendarai mobil keluar
dari Kelapa Gading.
Suatu hari anaknya sakit dan masuk rumah sakit di Sunter diluar Kelapa Gading, dan suaminya
sedang tugas di luar kota. Terpaksa dia mengendari mobilnya pergi ke rumah sakit tersebut, dan
sejak saat itu
dia berani mengendarai mobilnya kemana saja, termasuk pulang pergi ke Bandung.
Ada staff di bagian keuangan yang sudah bekerja 5 tahun, tidak pernah bisa meraih promosi
jabatan karena disana adalah jabatan fungsional yang buntu dengan jenjang karir, ketika saya
tawarkan jabatan di
bagian marketing, dia tidak berani mengambilnya karena merasa tidak mampu menjadi orang
marketing.
Ada seorang salesman yang sudah bekerja 10 tahun, prestasinya bagus, disegani teman
temannya, bahkan jadi tempat bertanya atasannya. Ketika ditawari jabatan supervisor dia
menolak karena dia takut
dengan pekerjaan administrasi dan takut kalau nanti suatu hari naik lagi jadi distrik manager yang
sarat dengan tugas tugas di atas meja, dia merasa tidak bisa mengerjakan pekerjaan adminitrasi.
Dear teman2 sekalian, coba anda lihat diri anda sendiri, adakah seutas benang yang memhambat
diri anda saat ini? Putuskan benang itu, bergeraklah maju lebih dari lingkaran yang selama ini
mengurung anda.
Ada seorang tukang becak yang bertahun2 mengayuh becak tapi dengan berpikir bisa merubah
nasib melalui bisnis Network Marketing akhirnya dia bisa menjadi Group Director dengan income
jutaan rupiah perbulan dan tidak perlu peras keringat dan berpanas-panas lagi disiang hari.
Ada seorang tukang sayur yang hanya tamatan SD berkali-kali coba mencari peluang karena ingin
merubah nasib tapi karena selalu berpikir bahwa nanti pasti bisa mendapatkan usaha yang tepat
akhirnya
dia menemukannya dengan pendapatan bulanan mencapai 8 digit dan tidak kekurangan finansial
lagi
Anda pasti bisa kalau anda berpikir anda bisa, anda akan gagal kalau anda selalu berpikir anda
akan gagal. Peluang demi peluang muncul setiap hari, dan karena selama ini anda menutup mata
anda, telinga
anda, pikiran anda, diri anda, hidup anda, maka peluang itu menjadi bukan peluang, lewat begitu
saja