Ayunan kaki melangkah tanpa tujuan
Menyusuri jalan tanpa kepastian
Berlari
Berhenti
Tak menentu
Mata-mata yang hampir buta
Memandang suram
Terbuka
Terpejam
Meski tak mengerti
Lidah-lidah yang hampir kaku
Berkata tanpa ragu
Berucap
Terdiam
Seakan tahu segalanya
Telinga-telinga yang hampir tuli
Mendengar tiap hari
Segala suara
Tanpa batas
Namun tak berbekas
Langkah-langkah tanpa tujuan
Mata-mata yang memandang kegelapan
Lidah-lidah yang beruap tanpa perasaan
Telinga-telinga yang mendengar dalam ketulian
Dari hati tak bertuan
PujanggA
Rabu, 30 Maret 2011
Genderang
Dari benih yang terlahir
keserakahan itu pun hadir
menyelimuti dunia yang memang sudah renta
hingga tak mampu lagi membendung dan mencegah
penindasan kepada yang lemah
Di setiap detik terus bergema
jerit kematian
tangis pedih kehilangan
Di setiap detik terus mengalir
tetesan air mata
darah mereka yang tak berdosa
Di setiap detik terlihat
tubuh-tubuh tergeletak
tak bernyawa tak bergerak
Nafsu bahimiyah
tak tercegah
keserakahan itu pun hadir
menyelimuti dunia yang memang sudah renta
hingga tak mampu lagi membendung dan mencegah
penindasan kepada yang lemah
Di setiap detik terus bergema
jerit kematian
tangis pedih kehilangan
Di setiap detik terus mengalir
tetesan air mata
darah mereka yang tak berdosa
Di setiap detik terlihat
tubuh-tubuh tergeletak
tak bernyawa tak bergerak
Nafsu bahimiyah
tak tercegah
PujanggA
Langganan:
Postingan (Atom)