Kamis, 24 Maret 2011

Itu Santa, Nak.....

Meriah... Sungguh meriah suasana menjelang Natal di Negeri Sakura. Kerlap-kerlip lampu beraneka warna menambah gemerlapan kota. Toko-toko dihias dengan begitu indah, seraya menawarkan discount besar-besaran. Tak ketinggalan sang pelayan mengenakan pakaian kebesaran berwarna merah, lengkap dengan topi runcing yang ada lampu neonnya.

Mereka tersenyum penuh keramahan, irashaimase... irashaimase..., teriaknya. Tamu adalah raja, sementara di negara kita raja hanya untuk mereka yang berbelanja dengan pakaian dan kendaraan mewah.

Malam pun tak kalah semarak dengan siang. Jalanan bagaikan diselimuti cahaya kunang-kunang, mengerubungi orang-orang yang berjalan-jalan untuk sekedar menghabiskan waktu ataupun kesuntukan rutinitas kerja.

Kemeriahan semakin lengkap dengan banyak pohon Natal yang dihiasi hiasan cantik dan menarik. Lampu-lampu kecil, lonceng, bandul bola emas dan perak saling memantulkan cahaya bagai kerlingan mata bidadari yang cantik. Bagi orang Jepang, suasana menjelang dan Natal itu sendiri adalah saatnya bersuka ria, tanpa peduli dengan ritual agama.

Hmm.. aroma pesta pun tercium dimana-mana. Bercampur baur dengan alunan lagu Jingle Bells, Holy Night, Gloria ataupun Kurisumasu Omedetou, yang kadang menggoda iman untuk melagukannya.

Uups...!!!
Disentak, membuat langkahku terhenti, "Jangan dipegang nak, nanti jatuh!" seraya tangan menahan keinginan si kecil. Sekilas kutangkap matanya yang tadi berbinar-binar, berhasrat ingin menyentuh bola warna-warni yang tergantung di sebuah pohon natal imitasi. Ia hanya diam, tak berkata apa-apa.

Namun tak lama, terdengar teriakannya, "Ibu..., mau beli ini!!!" seraya tangannya yang mungil menunjuk sebentuk permen dari berbagai bentuk yang berwarna-warni. Aku hanya terpana, detak jantung pun seakan terhenti, "Itu Santa, nak..." Syukurlah, ia sudah tau alasannya, tanpa perlu kujelaskan itu siapa dan mengapa.

Dialihkan pandangannya, sudut mata berpindah dari permen berbentuk Santa Claus kepada yang lainnya. Ekor mata cantiknya pun kembali berhenti, menatap penuh harap sambil berteriak, "Kalau gitu yang ini aja, ini kan cuma yuki daruma!!!"

Lidahku kelu tak bisa berkata, hanya tarikan nafas yang terdengar. Aku tahu, sebenarnya bukan soal Santa, yuki daruma atau yang lainnya, tapi karena dia hanyalah anak-anak, sama seperti yang lainnya, suka dengan kemeriahan.

Pulang ke rumah, aku terpekur merenungkan apa yang telah dilalui, lalu mencoba menuliskannya kembali dalam rangkaian kata yang mudah-mudahan bermakna. Sepintas mata mengerling, si kecil begitu asyik dengan acara Christmas Gifts Packing di TV, wah... memang menarik. Tak sadar mata ini tak berkedip menatap acara yang penuh pesona itu hingga tuntas, lalu aku kembali terdiam.

Si kecil menoleh kepadaku, sedikit merajuk dan berteriak, "Ibu..., mengapa tak mengatakan KIREEEI!!!"

Tanpa semangat, aku bergumam, "Ya, memang cantik."

Yaa Robbi...
Jauh di lubuk hati, aku merasa telah berlaku tak adil. Bukankah sebuah fitrah bila mereka begitu menikmati kerlap kerlip lampu yang menarik hati, bola-bola yang berkilau merah, biru, hijau, kuning dibercaki warna keemasan yang gemulai bergelantungan, atau pun hadiah yang berbungkus pita-pita indah? Lalu mengapa aku melarangnya?

Usia mereka yang begitu muda belum bisa direcoki dengan segala macam fatwa atau penjelasan detail tentang aqidah. Bagi mereka, semua itu hanyalah permainan, yang bisa membuat hati mereka terhibur dan sejenak bergembira.

Aku pun semakin dalam merenung, teringat Idul Fitri barusan.

***

Hujan deras, membuat kami basah kuyup, lalu pulang dengan kedinginan. Kembali menghadapi hari-hari sepi di rumah, justru di saat anak-anak seusia mereka selayaknya bergembira seperti di kampung halaman. Terbayang tingkah polah mereka yang pamer pakaian baru, sambil di kantong-kantongnya penuh dengan 'angpau'.

Mereka saling berteriak riang gembira bersahut-sahutan, seakan berharap setiap hari adalah hari raya.

Sungguh besar harapan di Idul Fitri mendatang akan ada acara yang menarik buat mereka, agar mereka tahu bahwa mereka juga punya hari bahagia. Bukan hanya sekedar rutinitas orang tua belaka, makan-makan di sebuah rumah rakyat yang besar, sementara anak-anak tak tahu berbuat apa, hanya terpaksa menonton berbagai macam gaya tertawa orang dewasa.

Drama sederhana tentang sejarah RasuluLlah SallaLlaahu Alayhi Wasallam, dengan mereka menjadi pemainnya, rasanya menarik untuk dilakukan, tentu itu akan menyenangkan hati mereka. Saat itu mereka bisa belajar tentang indahnya Islam, kepahlawanan, serta nikmatnya menjadi orang Islam.

Pun rasanya tambah meriah saat mereka menonton drama yang juga diperankan orang dewasa, ada adegan ibu yang menghibur anak-anaknya agar segera tidur padahal mereka kelaparan, lalu seorang laki-laki datang, wajahnya penuh uraian air mata sambil di punggungnya memikul beras dari arah Baitul Maal.

Saat itu aku akan berteriak dengan penuh kebanggaan dan kerinduan akan sosok umara' sekaligus ulama, "Itu Umar nak...!!!"

Salahkah aku begitu berharap?

Ah... rasanya tidak, bukankah mereka juga punya anak-anak, dan kita semua juga pernah menjadi anak-anak.

Wallahua'lam bi showab.

Catatan:
Irashaimase: selamat datang
Kurisumasu Omedetou: Merry Christmas
Yuki daruma: boneka salju
Kirei: cantik, indah.

sumber : eramuslim

Izinkan Aku Menangis

Jam menunjukkan pukul 21.20 malam… Kecurian. Aku tertidur sekitar 3,5 jam setelah berbuka puasa petang tadi. Seingatku aku sedang kejar-kejaran dengan waktu di etape sulit ini. Al Qur’anku belum selesai. Tapi entah mengapa, mushaf itu tetap diam disamping bantal; dekat kepalaku? Aku menyerah lagi. Kelelahan fisik dan kepenatan pikiran. Aku hendak berapologi pada diriku sendiri.

Kegundahan apakah ini? Kekhawatiran apakah ini? Kecemasan apa lagi?

Mengapa pelupuk mataku panas. Namun, aku malu untuk menumpahkan air mata. Ya, air mata bening itu hanya boleh kutunjukkan pada-Nya. Bukan untuk memperturutkan rasa dan emosi serta mengalahkan rasio yang wajar. Meski… jebol juga tanggul itu.

Aku membuka hadits ini lagi, ”Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan berbuat untuk masa setelah mati. Orang yang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya dan berharap (banyak) pada Allah”. (HR.Turmuzi, dari riwayat Syaddad bin Aus ra.)

Jika kebodohan (tidak cerdas) tidaklah berakibat kepada kemurkaan Allah? Dan ternyata pengharapan pada-Nya saja tak cukup. Sering menyerah pada diri sendiri di tengah komitmen hendak berbuat. Harapan tanpa kekuatan itu disabdakan Rasulullah Saw. sebagai kelemahan. Mengapa aku lemah?

Jika saja ini bukan di etape final. Aku boleh berharap banyak untuk menjadi sang pemenang. Jika saja aku boleh berandai, jarum jam diputar. Namun, agamaku melarang pengandaian. Benar. Konsentrasi di babak ini seringkali buyar.

Aku membuka genggaman tangan kiriku. Ya, tinggal itulah hitungan hari-hari pembekalan tahun ini. Aku tak pernah tahu, mampukah aku sampai di penghujungnya. Mampukah aku menjadi yang terbaik diantara sekian juta para pemburu satu cinta, sejuta pengampunan dan seribu keberkahan? Aku malu menanyakannya pada diriku sendiri.

Masih tersisa kedengkian. Masih ada pertanyaan sikap dan prasangka buruk. Masih juga bersemanyam ketersinggungan dan gerutu ketidakpuasan. Masih ada pandangan mata khianat. Masih ada ketajaman lidah yang melukai hati. Masih juga mengoleksi berita-berita tak bernilai. Masih saja melafazkan kata-kata tak bermakna. Lantas, apa makna tengadahan tangan di tengah malam yang diiringi isak pengharapan. Sekali lagi, pengharapan yang lemah yang kalah oleh nafsu.

Aku terduduk lemas. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan untuk mengungkapkannya. Aku pandangi lama-lama refleksi kegundahan itu.

Aku hanya boleh bertanya, kemudian kujawab sendiri. Selain itu hanya kesunyian. Meski dunia sekelilingku ramai dengan hiruk pikuk malam. Kedai sebelah rumah masih ramai. Coffee shop masih dipenuhi orang yang asyik menonton el Ahli–mungkin–, klub kebanggaan mereka sedang berlaga. Aku dibangunkan teriakan itu. Mengapa tidak suara Syeikh Masyari Rasyid yang melantunkan surat al Qiyamah, misalnya. Atau suara siapa saja yang menembus gendang telinga ini. Namun, melantunkan suara pengharapan yang kuat yang bisa menembus langit-Nya.

Atau suara-suara dari rumah-Nya yang dipenuhi isakan harapan hamba-hamba-Nya yang berlomba memburu seribu keberkahan dan sejuta pengampunan. Atau senyuman malaikat yang menyaksikan bocah-bocah kecil yang menahan kantuk berdiri sambil memegangi mushaf kecil dipojok-pojok masjid.

Sebagaimana aku boleh berharap di penghujung hari pembekalan ini, aku menjadi sang jawara. Namun, aku malu untuk berharap demikian. Sebagaimana aku juga boleh berharap menutup hariku di dunia dengan syahadah di jalan-Nya. Toh, semua menjadi misteri yang tak terjawab.

Ya, Khalid bin Walid pun yang sangat pemberani akhirnya menutup harinya di atas pembaringan. Lantas, tidakkah malu aku membandingkan pengaharapanku dengan kelemahan diriku menghadapi diri sendiri.

Sebagaimana aku mengandaikan bidadari surga. Apakah ia takkan cemburu dan marah dengan pandangan khianatku pada hal-hal yang tak seharusnya kulihat.

Sebagaimana aku berharap istana megah setelah matiku. Sudah berapakah aku menabung untuk itu. Sementara hidupku dipenuhi ambisi dan obsesi yang penuh dengan tabungan materi dan memegahkan istana duniaku. Dan aku telah mencintai dunia itu.

Sebagaimana aku berharap menikmati seteguk susu dari aliran sungai di surga-Nya. Aku lalai mengumpulkan “dana” untuk membelinya. Juga madu dan jus mangga.

Sebagaimana aku tetap berharap ingin terus mencicipi delima merah dan jeruk sankis serta buah khukh di masa setelah kefanaan ini. Tapi aku terlalu terpana oleh keindahannya yang sementara. Entah berapa tahun, bulan, hari atau bahkan hitungan detik aku masih bisa melihatnya di toko buah-buahan di sebelah rumahku.

Aku memaknai keterlaluan yang fatal ini dengan sikap yang tidak seimbang. Khayalanku dipenuhi pengaharapan. Namun, hatiku disesaki kelemahan. Akibatnya seluruh organ tubuhku lemah. Mata, telinga, mulut, kaki, tangan… semua menolak untuk diajak menggapai cinta-Nya.

Etape final ini banyak tikungan tajam. Dan aku terjatuh. Putaran roda keinginan tersebut trrgelincir oleh kerikil kecil bernama kelalaian. Alhamdulillah, aku masih bisa bangkit meneruskan perjalanan. Meski aku tahu, kini aku jauh tertinggal. Aku belum bisa menjadi yang terbaik. Tapi aku masih bisa berharap untuk menjadi baik. Karena aku masih bersama orang-orang baik bahkan mereka ada di depanku; orang-orang terbaik itu.

Aku masih harus melewati tikungan tajam lainnya. Tergesa-gesa, kecerobohan, cinta dunia, rasionalisasi kesalahan, buruk sangka. Namun, aku masih punya bekal. Cinta, hati nurani dan bahan bakar ketelitian serta nasihat orang-orang shalih. Dan tikungan tajam yang paling membahayakan di akhir etape ini adalah: menduakan cinta-Nya. Ada cinta lain yang menyesak hendak menggeser kemuliaan itu.

Ada beberapa materi terakhir di ujian final ini: menanggalkan kesombongan dan ingin dipuji serta disanjung berlebihan. Menanggalkan kecintaan dunia yang berlebihan dengan qanaah dan tawadhu’.

Tiba-tiba aku ingin menangis. Namun, aku tak mampu. Ya Allah aku ingin mengeluarkan air mata ini untuk-Mu. Aku khawatir kesulitan ini tersendat karena kemurkaan-Mu.

Air bening itu tersendat. Jangan-jangan karena kesalahanku. Karena tumpukan-tumpukan egoisme. Karena tumpukan-tumpukan kotoran buruk sangka. Karena tumpukan-tumpukan gerutu. Karena tumpukan-tumpukan doa-doa yang kosong. Terkunci oleh hawa nafsu.

Jika demikian, jangan Kau murkai hamba ini ya Allah. Hamba masih terus berharap pembebasan dari murka-Mu di hari-hari pembebasan ini.

“… dan sepertiga terakhirnya adalah pembebasan dari api neraka,” demikian Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik bulan pembekalan ini. Ya Allah, jadikanlah nama hamba ada dalam daftar pembebasan itu. Juga nama kedua orang tua hamba, keluarga hamba, para guru hamba, saudara-saudara hamba serta siapa saja yang mempunyai hak atas hamba. Amin.

sumber : eramuslim