Selasa, 22 Maret 2011

Pelajaran Dari Negeri Yang Hilang

Tegak rumah karena sendi, Runtuh sendi rumah binasa, Sendi bangsa ialah budi, Runtuh budi runtuhlah bangsa.

Pantun Melayu yang sudah berumur ratusan tahun lalu itu mengingatkan kita akan peran budi pekerti suatu bangsa. Bangkit dan runtuhnya suatu bangsa tercermin dari budi bangsa tersebut. Dalam Al Qur'an banyak dikisahkan bermacam bangsa yang pernah memegang peradaban dan mencapai puncak kejayaan, namun tidak bisa bertahan dan akhirnya runtuh. Lihatlah contoh bangsa A'ad, Tsamud, Romawi, Persia dan lain sebagainya. Bangsa-bangsa ini pernah berjaya, namun karena rusaknya moral individu dan bangsa, runtuh juga kejayaan bangsa-bangsa tersebut.

Negeri-negeri Islam pun pernah mengalamami kejayaan. Sejarah telah mencatat bagaimana negeri-negeri Islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah, Bani Abbasyiah, Turki Utsmani telah berabad-abad memegang peradaban dunia. Begitu juga di Nusantara ini dengan puluhan kerajaan Islam. Namun semuanya itu berakhir, karena rusaknya moral (akhlak) pemimpin dan (juga) sebagian rakyatnya.

Runtuhnya negeri-negeri yang disebutkan di atas menjadi tanda bahwa budi pekertilah yang memegang peran dalam kehidupan bernegara. Bila budi di negeri tersebut rusak, rusaklah negeri tersebut. Untuk memperbaiki semua, itulah sebab kenapa Allah SWT mengutus pada tiap-tiap masa seorang Nabi dan Rasul.

Demikian juga halnya dengan Rasul kita Muhammad SAW. "Aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti". Sabdanya itu dengan tegas menjelaskan maksud kedatangannya ke alam dunia ini. Kepadanya diturunkan Tuhan kitab Al Qur'an. Dan tujuan kitab itupun dijelaskan, yaitu membenarkan kandungan dan tujuan dari kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul-Rasul sebelumnya. Dijelas dalam Al Qur'an bagaimana Tuhan memberikan tuntunan-Nya kepada manusia, supaya manusia itu mencapai setinggi-tinggi budi dan setinggi-tinggi tujuan hidup, yaitu ketaqwaan kepada Allah SWT.

Sebelum Al Qur'an itu disampaikan kepada orang lain, Rasulullah sendirilah yang terlebih dahulu mengamalkannya. Aisyah yang menyaksikan kehidupan Rasulullah SAW setiap harinya mengatakan, "Akhlak Nabi SAW itu ialah Al-Qur'an". Nabi Saw pun dengan tegas mengatakan, "Tuhan sendiri yang membentuk diriku, maka sangat indahlah bentukan-Nya".

Budi Al Qur'an itulah yang telah menjadikan suatu ummat dan bangsa menjadi besar, yang berkumandang suaranya dibawah kolong langit ini, ke Timur, ke Barat, ke Utara dan ke Selatan, menegakkan suatu negara, dan peradaban yang diakui sebagai rantai emas yang gilang gemilang dalam peradaban manusia. Sehingga Allah SWT berfirman: "Bahwasanya bumi ini akan Kami wariskan kepada hamba Kami yang sudi melakukan amal yang mulia".

Dan siapakan yang memungkiri sejarah bangsa-bangsa yang hilang, baik di Barat atau di Timur, sejak bangsa Yunani dan Romawi kuno sampai kepada kaum Muslimin yang telah mencapai puncak kejayaan? Bagaimana mereka sampai mengalami keruntuhan dan kehancuran? Bukankah setelah budi (moral) mereka merosot jatuh? Inilah Hukum Allah, Sunnatullah yang tidak dapat diubah.

Bangsa Indonesia khususnya dan kaum Muslimim umumnya yang saat ini sangat terpuruk dibawah cengkeraman bangsa barat harus bangkit kembali. Bangunlah kaum muslim kembali, insaflah akan keruntuhan selama ini, kembalilah kepada budi Al Qur'an. Firman Allah SWT: "Ikutilah jalanKu, jangan kamu ikuti jalan yang lain, engkau akan terpecah belah kalau itu juga engkau turutkan".

Itulah tujuan kemanusian yang paling tinggi, tegaknya budi pekerti. Hidup berbudi itulah tujuan kita.

Diribut tunduklah padi, Dicupak Datuk Temenggung, Hidup kalau tidak berbudi, Duduk tegak ke mari canggung.


Nusrizar M.
(noes@indonesian-aerospace.com)


Sumber: eramuslim

Orang Beruntung

Ketika seorang bayi menjerit kelaparan, disertai ratapan ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo’a dan penuh harap. Ketika seorang bapak jatuh bangun banting-tulang untuk mendapatkan sesuatu yang halal dalam memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Kepedulian terhadap sesama ummat manusia yang sekiranya bisa diberikan kepadanya tidak juga ia dapatkan. Sementara masing-masing orang sibuk dengan urusannya yang mungkin juga untuk melakukan hal yang sama.

Apakah bagi sebagian orang yang hidup dengan tingkat ekonomi lebih baik, ada sedikit rasa iba jika di lingkungannya masih ditemukan segelintir orang yang masuk dalam kelompok fakir miskin, yatim piatu, dan lain-lain? Adakah orang-orang yang memiliki kemampuan dan kekuasaan membantu merubah nasib -yang bukan hanya nasibnya sendiri- orang lain?

Benar bahwa segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia kembali kepada niatnya. Ada yang ikhlas karena Allah, ada yang hanya ingin mendapat simpati dari orang lain, ada juga yang berniat untuk menutupi kekurangan yang ada dalam dirinya, dan bahkan ada juga yang dengan sengaja dilakukan semata-mata hanya untuk melicinkan tujuan buruknya tercapai.

Dalam keadaan masyarakat yang penuh dengan ketidakpastian dalam segala hal, figur seseorang yang awalnya bisa diharapkan (karena tidak ada pilihan lain) menjadi seorang pemimpin dan bahkan berjanji akan merealisasikan harapan sebagian besar orang yang dipimpinnya, malah diluar dugaan menjadi bumerang dan sumber dari segala sumber masalah. Inkonsistensi serta ketidaktegasan dalam menjalankan roda kepemimpinannya, mengakibatkan banyak opini yang menyebutkan bahwa perdebatan karena perbedaan pendapat yang terjadi diantara para pembantu dan orang terdekatnya dapat menciptakan krisis moral yang mengawali terbentuknya mental-mental korupsi, kolusi, dan nepotisme disetiap sudut-sudut instansi pemerintah maupun swasta dari tingkatan yang paling atas sampai pada tingkat cleaning service. 
Hal itu sebenarnya juga disadari oleh mereka yang sedang “bermain” dengan jabatan, harta, dan kekuasaan yang dimiliki. Tetapi mereka berdalih bahwa tujuan duniawi yang sedang mereka kejar adalah semata-mata agar terhindar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Namun hanya sebagian kecil dari mereka menyadari bahwa sebenarnya yang mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi adalah mental dan moral mereka sendiri yang mengambil kebijakan untuk kepentingan mereka sendiri. Namun mereka juga tetap tidak peduli.

Seandainya pemimpin tersebut berniat karena Allah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang sudah hampir punah dengan memanfaatkan kondisi dan situasi yang sifatnya nasional atau bahkan internasional untuk menetapkan kebijakan yang dapat mengangkat derajat dan martabat serta harga diri para pengikutnya. Insya Allah, dukungan yang semula sirna akan kembali bersinar. Dan jalan menuju tahta yang lebih baik dengan kepimpinan yang islami akan mudah dicapai. Karena yakinlah bahwa setelah ada kesulitan maka akan ditemukan kemudahan.

Tetapi jika hal tersebut datas dilakukan dengan niat dan tujuan agar setelah moment untuk mengembalikan kepercayaan tersebut dapat dipilih kembali dan mengulangi lagi penderitaan rakyat serta membentukan mental dan moral KKN atau bahkan lebih parah lagi. Percayalah, bahwa tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari Allah, baik yang ada di bumi maupun ada di langit.
Jikalau memang ada niatan seperti itu, besar kemungkinan bahwa prestasi yang akan selalu digembar-gemborkan dengan bangga dan sangat gigih hingga pada saat pemilihan nanti adalah kebijakan yang bersifat nasional atau internasional seperti yang disebutkan diatas sebelumnya. Mengenai tindakannya yang sengaja menyengsarakan rakyat akan berusaha sekuat mungkin untuk disembunyikan. Alangkah beruntungnya pemimpin seperti itu, bisa mengambil simpati serta keuntungan dari orang yang telah ditindas untuk kemudian ditindas kembali atas kepemimpinannya untuk yang kesekian kalinya.

Hanya Allah tempat kita bersandar, kepada Dialah kita memohon pertolongan. Karena sesungguhnya manusia itu tidak pernah akan merugi jika beriman kepadaNya. Janganlah berpikir kehidupan duniawi itu lebih baik dari kehidupan akhirat, karena dunia hanyalah merupakan fasilitas bagi manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dihari akhir nanti. (Ibrahim)

eramuslim.com