Selasa, 22 Maret 2011

Muhasabah Seorang "Pedagang"

"Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan" (QS Al-Hasyr: 18).


Secara jelas, ayat ini menyuruh setiap mukmin untuk memperhatikan nasibnya di akhirat kelak. Bekal apa yang telah kita siapkan agar selamat di alam yang baru itu?


Allah Swt. menerangkan kata kuncinya, yaitu muhasabah. Makna muhasabah sebagaimana disyari'atkan oleh ayat ini adalah hendaknya setiap kita menghisab diri ketika selesai melakukan suatu pekerjaan, apakah pekerjaan itu untuk mendapatkan ridha Allah atau bukan? Atau apakah amal itu telah diinfiltrasi sifat riya?


Setiap pagi, sebelum melakukan aktifitas, mestinya kita selalu memperbaiki dan meluruskan niat, melaksanakan taat, memenuhi segala kewajiban, dan membebaskan diri dari sifat riya.


Demikian pula sewaktu menjelang tidur, hendaknya kita menyempatkan untuk berkhalwat dengan diri sendiri guna menghisab semua yang telah dilakukan. Bila yang dilakukan itu kebaikan, maka kita patut memanjatkan puji syukur kepada Allah seraya memohon keteguhan dan tambahan kebaikan kepada-Nya. Sebaliknya, bila yang dilakukan bukan kebaikan, maka kita harus beristighfar, bertaubat, serta kembali ke jalan-Nya.


Benarlah apa yang dikatakan Umar bin Khaththab :

"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukkan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun."


Seorang mukmin ibarat pedagang yang selalu mengontrol modal, keuntungan, dan kerugian, agar dapat diketahui apakah dagangannya itu untung atau rugi. Modal seorang mukmin adalah Islam yang mencakup segala perintah, larangan, tuntutan, dan hukum-hukumnya. Keuntungan akan diperoleh bila kita melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya. Dan kerugian akan didapat bila kita melakukan perbuatan dosa dan maksiat.


Ketika kita selalu memperhatikan modal, memperhitungkan keuntungan dan kerugian, bertobat dikala melakukan kesalahan dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan, Insya Allah kita termasuk orang yang menghisab diri sebelum hari penghisaban, yaitu hari kiamat.


 

Sumber: eramuslim


Miliki Keyakinan, Anda Akan Kuat

Hanzalah mengatakan, "Rasulullah mengingatkan kami tentang surga dan neraka sehiga seolah-olah kami melihatnya dengan mata telanjang." (HR.Muslim)

 
Pernahkah anda mendengar kisah seorang sahabat yang berangkat ke medan jihad dengan berkata, "Aku mencium bau surga di balik bukit Uhud…" Pemuda itu lantas menembus sampai ke barisan musuh dan berperang sampai titik darah penghabisan menyongsong syahid.


Barangkali kita pernah berpikir. Kenapa para sahabat Rasulullah yang mendapat label generasi terbaik itu seolah tak terlalu melakukan pertimbangan rasional dalam tindakannya menegakkan agama Allah. Mengapa juga mereka sepertinya tidak mengabaikan aspek-aspek materi dan kemanusiaan mereka dalam memenuhi dan menjalankan perintah Allah. Dan anehnya lagi, katakanlah dalam kondisi seperti itu, mereka justru mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman luar biasa, meskipun secara lahir mereka mengalami penderitaan dan kesulitan.

 
Kunci sikap tersebut sebenarnya adalah keyakinan. Keyakinan disebut sebagai aqidah. Keyakinanlah yang membuat mereka memandang berbagai permasalahan dari sudut ukhrawi dan dari sana mereka memperoleh suplai kekuatan bathin dan fisik yang sangat besar.

 
Dari mana seseorang memperoleh keyakinan?


Keyakinan akan akan kokoh karena kedekatan diri pada Allah. Jika seseorang telah sampai pada keyakinan, tidak heran bila ia seperti telah memandang surga dan neraka dengan kasat mata. Itulah yang terjadi para sahabat Rasulullah saw. Perasaan dan hati mereka tenggelam dalam gambaran surga dan neraka, sehingga mereka benar-benar merasakan kedua suasana surga dan neraka itu. Seperti perkataan seorang sahabat bernama Hanzalah, "Rasulullah mengingatkan kami tentang surga dan neraka sehiga seolah-olah kami melihatnya dengan mata telanjang." (HR.Muslim)
 

Masalah keyakinan disinggung oleh Ibnu Athaillah. Ia mengatakan,


"Jika cahaya keyakinan telah memancar padamu, niscaya engkau akan melihat akhirat lebih dekat padamu dan niscaya engkau melihat keindahan dunia yang nyata, di atasnya puing-puing kerusakan."

Menurut Ibnu Athaillah, mengapa tarikan akhirat kita masih lemah, namun pesona duniawi begitu kuat menghujam dalam jiwa seseorang? Rahasianya terletak pada kuat dan lemahnya keyakinan. Ia menambahkan:


"Barangsiapa yang memiliki keyakinan yang kokoh, maka ia akan hidup dalam keyakinannya itu. Ia akan merasakan seolah olah hidup di akhirat. Dan sebaliknya barngsiapa yang keyakinannya lemah, pasti dunia atau segala hal zahir akan menguasai dirinya, dan itu akan membuatnya lemah."

 
Karena itu, kuatkan keyakinan. Anda pasti menjadi orang yang kuat. (na)

 


Sumber: eramuslim